Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

MARI MENGENAL SYARAT UNTUK SHALAT BERJAMAAH

Gambar
MARI MENGENAL SYARAT UNTUK  SHALAT BERJAMAAH Ditulis 0leh Walid Blang Jruen matan yang berbahasa arab di ambil dari dalam kitab al bajuri 1 jilid 1 kemudian di terjemahkan dalam bahasa melayu agar bagi orang yang tidak memahami bahasa arab ,juga bagi muptadi muptadi tidak kesulitan dalam memahaminya Sebelum kita shalat berjamaah mari kita mengenal Syarat-Syarat Berjama’ah agar shalat jamaah yang kita lakukan sah dan mendapat fahala disisi Allah SWT, dan menjadi syiar agama sesuai perintah rabul alamin بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم ثُمَّ أَشَارَ الْمُصَنِّفُ لِشُرُوْطِ الْقُدْوَةِ بِقَوْلِ هِ Kemudian mushannif memberi isyarah pada syarat-syarat bermakmum dengan perkataan beliau , وَأَيُّ مَوْضِعٍ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ بِصَلَاةِ الْإِمَامِ فِيْهِ) أَيْ فِي الْمَسْجِدِ (وَهُوَ) أَيِ الْمَأْمُوْمُ (عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ) أَيِ الْإِمَامِ بِمُشَاهَدَةِ الْمَأْمُوْمِ لَهُ أَوْ بِمُشَاهَدَةِ بَعْضِ الصَّفِّ (أَجْزَأَهُ) أَيْ كَفَاهُ ذَلِكَ فِيْ صِحَّةِ الْاِقْتِدَاءِ بِهِ (مَا لَم

PEMBAHASAN TENTANG QUNUT SHUBUH

Gambar
PEMBAHASAN TENTANG QUNUT SUBUH BID’AH Di tulis 0leh Walid Blang Jruen universitasislamdunia@gmail.com Walid Blang Jruen Merasa perlu untuk Menulis tentang hangatnya perdebatan bacaan qunut shubuh di akhir rakaat sembahyang shubuh, ada yang mengatakan tidak di sunahkan,bahkan ada yang mengatakan bi’ah   Untuk kejelasan nya mari kita bahas bersama disini: Kontroversi yang tak henti hentinya selama ini munculnya faham faham yang tidak hanya mengamalkan qunut shubuh namun membid’ahka nya qunut shubuh, ini sangat membinungkan ummat   di dunia maya baik di internet di buku, di maja lah dan sudah banyak yang memfat wakan bahwa qunut shubuh adalah bid’ah. Apakah bid’ah qunut shubuh atau hanya di bid'ah bid'ah kan Untuk menjawab tantanagan ini Walid Bang Jruen akan membahas secara rinci, tentunya dengan dalil dalil alqur'an, hadist, ijma',dan fatwa fatwa ulama dunia A.     QUNUT SHUBUH   SUNNAH Menurut Madzhab Imam syafi’I. Yang kita anut dan yang dianut juga oleh Ulam

MENGENAL TATA CARA SHALAT ,KAFAN,DAN MENGUBURNYA JANAZAH

BAB JENAZAH فَصْلٌ فِيْمَا يَتَعَلَّقُ بِالْمَيِّت مِنْ غُسْلِهِ وَتَكْفِيْنِهِ وَالصَّلَاةِ عَلَيْهِ وَدَفْنِهِ (Fashal) menjelaskan hal-hal yang terkait dengan orang yang meninggal dunia, dari memandikan, mengkafani, menshalatkan dan memakamkan وَيَلْزَمُ عَلَى طَرِيْقِ فَرْضِ الْكِفَايَةِ (فِي الْمَيِّتِ) الْمُسْلِمِ غَيْرِ الْمُحْرِمِ وَالشَّهِيْدِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ غُسْلُهُ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ) وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِالْمَيِّتِ إِلاَّ وَاحِدٌ تَعَيَّنَ عَلَيْهِ مَا ذُكِرَ Di dalam mayat orang Islam yang tidak melaksanakan ihram dan bukan yang mati syahid, Wajib fardlu kifayah untuk melakukan empat perkara, yaitu memandikan, mengkafani, mensholati dan memakamkannya. Jika mayat tidak diketahui kecuali oleh satu orang, maka semua hal yang telah disebutkan di atas menjadi fardhu ‘ain padanya. وَأَمَّا الْمَيِّتُ الْكَافِرُ فَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ حَرْبِيًا كَانَ أَوْ ذِمِّيًا وَيَجُوْزُ غُسْلُهُ فِيْ الْحَالَيْنِ وَيَجِبُ تَكْفِيْنُ الذِّ